Jogjakarta,TARUNA MEDIA--
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) lintas angkatan gelar acara temu alumni lintas angkatan Sabtu,27 Desember 2025.
Kegiatan reuni tersebut turut dihadiri oleh para aktivis organisasi kemahasiswaan UGM dari berbagai generasi termasuk Anies Baswedan.
Dalam keterangannya yang dikutip dari akun Instagram @aniesbaswedan pada Minggu (28/12/2025), Anies menjelaskan bahwa sejak Dewan Mahasiswa dibubarkan oleh rezim Orde Baru pada tahun 1978, kampus tidak lagi memiliki organisasi dan kepemimpinan mahasiswa di tingkat universitas.
Ia menuturkan, organisasi dan kepemimpinan mahasiswa hanya diperbolehkan berada di tingkat fakultas dalam bentuk Badan Perwakilan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa.
Sementara di tingkat universitas, organisasi mahasiswa hanya dapat berbasis minat dan bakat melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Anies menambahkan, temu alumni BEM UGM ini mempertemukan generasi awal yang merumuskan konsep serta Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Senat Mahasiswa UGM pada tahun 1990, hingga generasi BEM UGM masa kini.
“Ini adalah pertemuan yang hangat dan penuh kebersamaan, tidak hanya membahas cerita masa lalu, tetapi juga masa depan gerakan mahasiswa di kampus maupun di masyarakat,” ujar Anies.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada BEM UGM atas undangan yang diberikan kepada para alumni untuk hadir dan bersilaturahmi bersama.
Di sisi lain, kehadiran Anies Baswedan dalam reuni lintas angkatan BEM UGM tersebut turut menuai beragam komentar dari warganet.
Sejumlah netizen menyinggung soal keaslian ijazah para alumni yang hadir dalam acara tersebut.
“Ijazahnya asli semua ya, salut buat alumni BEM UGM,” tulis akun @miya***.
“Orang-orang yang tidak takut ditanya soal ijazah,” tambah akun @yandibrow***.
“Wajah beliau-beliau masih mirip seperti saat muda,” komentar akun @sty.ok***.
“Alumni 100 persen asli,” timpal akun @gelatik***.
Selanjutnya Anies Baswedan memaparkan,acara Temu Alumni BEM UGM jadi ajang silaturahmi lintas angkatan aktivis organisasi kemahasiswaan UGM.
"Sejak Dewan Mahasiswa dibubarkan pada tahun 1978 oleh rezim Orde Baru, kampus tidak lagi memiliki organisasi dan kepemimpinan mahasiswa level universitas,” ujar Anies di media sosialnya, Minggu 28 Desember 2025.
Menurut Anies, organisasi dan kepemimpinan mahasiswa hanya boleh di level fakultas berbentuk Badan Perwakilan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa.
Di level universitas hanya boleh berbasis peminatan, bentuknya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Tahun 1989, Mendikbud Fuad Hassan mengeluarkan kebijakan baru menghidupkan kembali organisasi kemahasiswaan melalui SK Mendikbud no 457. Mahasiswa menjadi terbelah,ada yang menolak dan ada yang menerima.
UGM dibawah kepemimpinan Rektor Prof Koesnadi Hardjasoemantri dan Rektor Prof Moch Adnan, bersama pimpinan lembaga mahasiswa fakultas menyambut peluang itu dan mulai mewujudkannya dengan membentuk Senat Mahasiswa UGM di tahun 1991. Senat Mahasiswa tahun 1991 ini bertransformasi menjadi BE-SM hingga menjadi BEM di tahun 1993.
“Konsep SMPT yang di awalnya dicurigai sebagai organisasi bentukan rezim Orde Baru, tapi Rektor bersama pimpinan lembaga mahasiswa fakultas se-UGM saat itu memandangnya sebagai peluang.
Konsep SMPT itu diterima dan diadaptasi sebagai jalan untuk pembentukan organisasi dan kepemimpinan mahasiswa level universitas bahkan ditransformasikan jadi pilar baru dalam gerakan mahasiswa,” papar Anies.
Konsep ini juga, lanjut Anies, yang kemudian tumbuh berkembang secara organik di berbagai kampus di seluruh Indonesia. Organisasi berbasis kampus ini juga yang turut berkiprah besar dalam mendorong reformasi 1998.
Temu Alumni BEM UGM ini mempertemukan generasi pertama yang menyusun konsep dan AD/ART Senat Mahasiswa UGM di tahun 1990 hingga generasi BEM terkini.
“Sebuah pertemuan yang guyub, bukan saja membahas kisah masa lalu tapi juga soal masa depan gerakan mahasiswa di kampus dan di masyarakat. Terima kasih BEM UGM yang telah mengundang kami semua untuk hadir bersama-sama,” pungkas Anies.(***)
tim/red









0 Komentar