Subscribe Us

Advertisement

Peneliti BRIN: Parpol Enggan Dukung Gibran Wapres 2 Periode

Jakarta,TARUNA MEDIA-- 

Menurut dia, faktor kontroversi sejak awal pencalonan Gibran sebagai Cawapres Pilpres 2024 hingga citra negatif yang masih melekat menjadi pertimbangan utama partai.

“Mengapa tidak mencalonkan kembali Gibran sebagai cawapres, ada beberapa kemungkinan. Pertama, sedari awal sebagai cawapres pada Pilpres 2024 menuai penolakan dan kontroversial. 

Tampaknya para parpol tersebut tidak mau lagi ada cawapres yang kontroversial karena bisa merugikan elektabilitas partainya,” kata Lili saat dihubungi media, Jumat (13/2/2026).

Pernyataan itu disampaikan Lili saat menanggapi keputusan sejumlah partai yang secara tegas mendukung kembali Prabowo pada Pilpres 2029, tetapi belum mau menentukan sikap soal sosok pendampingnya.

Selain faktor kontroversi, Lili berpandangan bahwa kinerja Gibran juga kerap mendapat citra negatif di mata publik.

Hal tersebut, menurut dia, menjadi catatan tersendiri bagi partai politik.

“Kedua, kinerja Gibran selalu mendapat citra negatif dari publik. Tentu ini menjadi catatan bagi para parpol tersebut,” kata Lili.

Lili menambahkan, kemungkinan lainnya adalah setiap partai ingin mengusung kadernya sendiri atau tokoh lain sebagai calon wakil presiden pendamping Prabowo pada 2029.

“Ketiga, bisa jadi masing-masing parpol tersebut ingin mengusung sendiri sebagai kandidat yang mendampingi Prabowo baik dari kader sendiri atau dari luar,” kata dia.

Langkah realistis
Meski begitu, Lili menilai dukungan partai-partai terhadap Prabowo untuk kembali maju pada Pilpres 2029 merupakan langkah yang realistis.

Sebagai bagian dari koalisi pemerintahan, partai-partai tersebut dinilai merasa tidak enak jika tidak kembali memberikan dukungan.

“Pertama, sebagai bagian koalisi tentu ketika Prabowo maju kembali tentu akan memberikan dukungan kembali karena merasa ewuh pakewuh atau tidak enak,” ucap Lili.

Selain itu, status Prabowo sebagai petahana dengan tingkat popularitas tinggi juga dinilai meningkatkan peluang kemenangan pada kontestasi mendatang.

“Sementara jika mendukung calon lain belum tentu menang. Sebagai petahana kecenderungan untuk menang tinggi dibandingkan bukan petahana,” katanya.

Kemudian, lanjut Lili, partai-partai pendukung juga tidak memiliki figur calon presiden yang popularitasnya sebanding dengan Prabowo, sehingga khawatir blunder apabila memaksakan memajukan calon sendiri.(***)





















sumber Kompas.com

Posting Komentar

0 Komentar