Jakarta, TARUNA MEDIA--
Beberapa waktu lalu panggung debat televisi yang seharusnya menjadi ajang adu argumen, berubah menjadi arena "pengusiran" yang memalukan.
Permadi Arya, atau yang lebih dikenal sebagai Abu Janda, kini berada di pusaran badai kritik setelah konsistensi ideologinya dikuliti habis-habisan oleh publik dan pakar hukum.
Ketegangan bermula saat Abu Janda hadir sebagai narasumber dalam program "Rakyat Bersuara" di iNews, yang dipandu oleh Aiman Witjaksono.
Dalam diskusi bertajuk isu Palestina, Abu Janda melontarkan pernyataan kontroversial dengan membantah adanya "utang sejarah" Indonesia terhadap Palestina.
Akun @gudang berita melaporkan pernyataan tersebut langsung dipatahkan secara telak oleh pakar hukum tata negara, Feri Amsari.
Menggunakan data sejarah yang presisi, Feri mengingatkan kembali dukungan krusial tokoh-tokoh Palestina pada masa awal kemerdekaan RI.
Tak berhenti di situ, sikap emosional Abu Janda yang sempat memaki diplomat senior Ikrar Nusa Bakti akhirnya berujung pada tindakan tegas.
Abu Janda diminta meninggalkan studio di tengah acara yang sedang berlangsung.
Foto Lawas dan Tudingan "Zionis"
Belum reda urusan di layar kaca, sebuah unggahan dari akun Threads dewaaphrodite tertanggal 11 Maret 2026 lalu kembali menyulut api.
Foto lawas yang memperlihatkan Abu Janda sedang berdoa dengan khusyuk di Tembok Ratapan, Yerusalem, situs paling sakral bagi umat Yahudi,menjadi peluru bagi para netizen. Tudingan "kelakuan zionis" pun membanjiri kolom komentar.
Hal ini menciptakan kontras yang tajam, mengingat selama ini Abu Janda identik dengan atribut budaya santri, mulai dari peci hingga keanggotaannya di Banser bawah naungan GP Ansor.
Kontroversi ini mengungkap beberapa poin krusial yang tengah menjadi sorotan publik.
Kredibilitas Ideologi
Publik mulai mempertanyakan apakah narasi "Islam Nusantara" yang digaungkannya murni merupakan ijtihad pemikiran atau sekadar tameng politik.
Kasus ini memperlebar jarak antara pendukung moderasi agama dengan mereka yang melihat tindakan Abu Janda sebagai bentuk pengkhianatan terhadap solidaritas kemanusiaan.
Etika di Ruang Publik
Insiden pengusiran di televisi nasional menjadi preseden buruk bagi seorang influencer dalam mengelola emosi dan argumen di depan jutaan penonton.
Rentetan peristiwa ini mulai dari debat yang berujung pengusiran hingga munculnya foto di Yerusalem bukan sekadar drama media sosial biasa.
Ini adalah potret nyata bagaimana identitas seseorang bisa hancur seketika saat rekam jejak digital bertabrakan dengan narasi yang dibangun di panggung publik.
Bagi Abu Janda, kali ini bukan sekadar soal melawan radikalisme, melainkan soal menjawab keraguan publik di mana sebenarnya ia berdiri.
Atau jangan-jangan Abu Janda memang seorang binaan dari Badan Intelijen Israel (Mosad) yang berlindung di bawah bendera Nahdlatul Ulama.Sehingga begitu gencar membela negara Israel.(***)
sumber priangantimurnews









0 Komentar