Subscribe Us

Advertisement

Israel Bom Markas Unifil di Lebanon Selatan, 1 Anggota TNI Tewas

Beirut,TARUNA MEDIA--
Seorang tentara Indonesia terkonfirmasi gugur dalam serangan ke markas UNIFIL di Lebanon Selatan pada Ahad. Sementara satu tentara lainnya dalam kondisi kritis.

Jenazah anggota TNI yang gugur belum dievakuasi dan masih berada di pos UNIFIL di Marjayoun, Lebanon. 

Sementara seorang yang terluka disebut dalam kondisi kritis dan dirawat di RS St George Beirut.

Pada Ahad, pangkalan penjaga perdamaian PBB dari Indonesia di Lebanon Selatan terkena serangan menyusul agresi Israel di wilayah tersebut. 

Pasukan Indonesia diserang di pangkalan di Aadshit al-Qusayr, di distrik Marjayoun, di Selatan, lapor Kantor Berita Nasional Lebanon

Penyiar Al Jadeed News melaporkan bahwa ada korban jiwa dan helikopter sedang mengangkut korban luka.

Kandice Ardiel, juru bicara Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), telah mengkonfirmasi bahwa beberapa penjaga perdamaian terluka setelah ledakan di posisi PBB di Lebanon selatan. 

“Sebuah proyektil meledak malam ini di lokasi UNIFIL dekat Adshit al-Qusayr, mengakibatkan sejumlah penjaga perdamaian terluka,” kata Ardiel seperti dikutip Kantor Berita Nasional. 

“Seorang penjaga perdamaian tewas secara tragis tadi malam ketika sebuah proyektil meledak di posisi UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr,” katanya, seraya menambahkan bahwa seorang lainnya “terluka parah”. 

"Kami tidak mengetahui asal muasal proyektil tersebut. Kami telah melakukan penyelidikan untuk mengetahui semua keadaannya."

Dari sekitar 20 insiden penembakan sejauh ini yang tercatat sejak 28 Februari, Kandice Ardiel mengatakan bahwa penghitungan awal menemukan bahwa sekitar 60 persen tidak diketahui asal usulnya, 25 persen disebabkan oleh IDF dan 15 persen disebabkan oleh aktor non-negara di pihak Lebanon yang “kemungkinan besar” adalah Hizbullah.

Empat pasukan penjaga perdamaian UNIFIL sejauh ini terluka dalam dua insiden terpisah, kata Ardiel. Tiga di antaranya luka ringan dan satu luka parah. Penjaga perdamaian yang menderita luka parah kini dalam kondisi stabil, katanya. 

UNIFIL belum menetapkan tanggung jawab atas kejadian yang menimbulkan korban jiwa tersebut, tambah Ardiel. 

Namun, IDF telah mengakui tanggung jawab atas satu insiden, ketika mereka mengatakan bahwa pada tanggal 6 Maret sebuah tank Israel secara keliru menembaki posisi UNIFIL, sehingga melukai pasukan penjaga perdamaian Ghana. 

Hizbullah tidak diketahui mengaku bertanggung jawab atas serangan baru-baru ini terhadap pasukan UNIFIL.

Ardiel memuji tindakan pengamanan UNIFIL atas relatif rendahnya jumlah korban hingga saat ini. Bahkan markas besar pasukan di kota pesisir Naqoura, katanya, “telah terkena peluru, pecahan peluru, pecahan proyektil yang dicegat.” 

Pada hari Senin, markas besar tersebut juga dihantam oleh "sebuah roket yang ditembakkan oleh aktor non-negara yang kemungkinan besar Hizbullah," kata Ardiel. 

UNIFIL pertama kali dikerahkan ke Lebanon pada tahun 1978, bertugas memantau gencatan senjata yang mengakhiri serangan Israel ke bagian selatan negara tersebut. 

Sejak tahun 2006, UNIFIL ditugaskan untuk memantau penghentian permusuhan lintas batas setelah konflik besar antara IDF dan Hizbullah dan mendukung rencana  penarikan Hizbullah dari wilayah tersebut dan penempatan kembali militer Lebanon sebagai gantinya. Rencana itu ditetapkan dalam resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701.

Sejak akhir Maret 2026, serangan udara dan pemboman Israel di Lebanon telah menewaskan lebih dari 1.100 hingga 1.200 orang, termasuk sedikitnya 121 anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon

Konflik yang semakin intensif telah menyebabkan lebih dari 1,2 juta orang mengungsi, dan lebih dari 3.400 orang terluka.  

Situasi ini digambarkan oleh para ahli PBB sebagai potensi “bencana kemanusiaan”, dengan lebih dari 1,2 juta orang mengungsi. Serangan telah melanda wilayah yang luas, termasuk di Lebanon selatan, di mana banyak keluarga terbunuh dalam serangan tersebut.

Penyerangan tentara Israel ke wilayah Lebanon Selatan termasuk ke markas Unifil  pertanda intensifnya beberapa front perang AS - Israel melawan Iran.Hal ini mematahkan kesombongan Presiden AS Donald Trump yang pernah sesumber mengatakan Iran bisa ditaklukkan dalam hitungan hari.(***)





















sumber Republika

Posting Komentar

0 Komentar