Subscribe Us

Advertisement

Kebijakan Presiden Prabowo Jadi Antek Amerika Bikin Indonesia Blunder

Catatan: Juliandar

Kebijakan Presiden Prabowo yang bergabung dalam forum Board of Peace (BOP)  buatan Presiden AS Donald Trump dianggap banyak kalangan adalah kebijakan yang blunder hingga membuat Indonesia terjebak dalam posisi tak berdaya.Khususnya dalam upaya menyelesaikan konflik Palestina dan Israel yang mewajibkan Indonesia harus mengikuti kemauan Donald Trump yang sebenarnya punya misi memusnahkan negara Palestina dari muka bumi.

Itu strategi Ular Beludak yang tidak terdeteksi oleh Presiden Prabowo atau memang Presiden Prabowo sengaja ingin merubah arah politik Indonesia menjadi pro Barat dan Israel.

Kalau lah analisis ini benar maka pemerintahan Prabowo Subianto jelas melanggar konstitusi negara yang menjalankan  politik luar negeri bebas dan aktif sebagaimana diamanahkan UUD 1945.

Blunder itu menjadi nyata ketika secara tiba tiba Amerika dan Israel menyerang Iran dan membunuh para pemimpinnya.

Seolah pemerintahan Presiden Prabowo menyetujui dan mendukung serangan tersebut.

Tidak ada statemen yang keluar dari mulut Prabowo menanggapi aksi brutal AS dan Israel tersebut.Termasuk ungkapan empati atas tewasnya pemimpin Iran Ali Khamenei tidak pernah diucapkan pemerintahan Prabowo.

Lucunya, dengan lantang Presiden Prabowo mengatakan akan terbang ke Iran untuk bernegosiasi guna menghentikan perang tanpa menyadari bahwa Indonesia tidak punya posisi tawar menawar sama sekali.Apalagi pemerintah Iran sudah membaca bahwa Prabowo Subianto pro Amerika.

Mungkin Presiden Prabowo lupa hubungan Jakarta - Teheran tidaklah baik-baik saja.Masih segar dalam ingatan tentang kasus penyitaan kapal tanker Iran MT Arman 114 oleh Indonesia pada Juli 2023 di Batam, yang dituduh melakukan transfer minyak ilegal dan mencemari laut.Sehingga memicu ketegangan diplomatik antar kedua negara.

Kapal tersebut kemudian dilelang oleh Kejaksaan Agung RI pada 2026, yang disinyalir menjadi penyebab kejengkelan Iran terhadap pemerintah Indonesia sehingga menahan atau mempersulit akses dua tanker Pertamina di Selat Hormuz pada Maret 2026. 

Seperti ramai diberitakan, kapal tanker raksasa MT Arman 114 (300.579 DWT) ditahan di perairan Batam, Kepulauan Riau, pada Juli 2023.

Kapal tersebut diduga melakukan ship-to-ship transfer minyak secara ilegal dan menyebabkan pencemaran laut.

Lalu pengadilan di Batam memutuskan untuk menyita dan melelang kapal tersebut, yang kemudian dilelang dengan nilai ditaksir mencapai Rp1,17 triliun pada 2026.

Dampak dari kasus ini membuat Iran kecewa dan kuat dugaan Iran membalas dengan melarang  kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping melewati Selat Hormuz pada Maret 2026.

Meskipun Pemerintah Indonesia tengah menempuh jalur diplomasi untuk mengatasinya.Namun belum menunjukkan hasil apa-apa.

Sementara situasi Selat Hormuz sampai saat ini masih diblokade oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC, sejak Amerika Serikat dan Israel mengobarkan perang terhadap negeri para mullah tersebut.

Negara-negara yang dibolehkan melintas hanya China, Rusia, India, Pakistan, Irak, Bangladesh termasuk Malaysia dan Thailand.

Sementara, Indonesia tidak terdapat dalam daftar itu sehingga sejumlah kapal minyak Pertamina masih tertahan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, penutupan Selat Hormuz yang menjadi titik paling strategis distribusi minyak Bumi itu adalah respons atas serangan AS-Israel.

“Kita berada dalam keadaan perang, jadi kapal-kapal musuh tidak bisa melintasi Selat Hormuz,” tegas Araghchi, dikutip hari Jumat (27/3/2026).

Itu artinya memang terdapat hambatan dalam hubungan bilateral Teheran - Jakarta yang belum terselesaikan.Sekaligus sinyal keras dari Iran menganggap Indonesia sebagai musuh dengan tidak memperbolehkan kapal Pertamina melewati Selat Hormuz.

Sejak awal Iran sebenarnya menaruh harapan besar agar pemerintah Indonesia memberikan kelonggaran terkait kapal tankernya yang disita.

Namun, proses hukum yang berjalan di Indonesia justru bergerak ke arah yang berbeda. Kejaksaan Agung RI malah melelang kapal tersebut.

Ditambah lagi kebijakan Presiden Prabowo yang masuk dalam forum BoP bikinan Donald Trump yang nyata nyata membela kepentingan Israel.

Mungkin saja Presiden Prabowo berharap Iran kalah perang sehingga AS dan Israel bisa membebaskan Selat Hormuz.Tapi harapan itu tampaknya sulit terwujud.

Fakta menunjukkan, sebulan lebih perang berlangsung justru serangan Iran ke Israel semakin intens dan masif.Belum lagi negara Irak yang sudah mengumumkan secara resmi ikut berperang bersama Iran melawan AS dan Israel.

Dengan kondisi demikian masyarakat awam saja sudah bisa meramalkan perang akan berlarut-larut.

Jangan dilupakan bahwa musuh AS bukan hanya Iran tapi ada Rusia,China dan Korea Utara.Meski ke tiga negara tersebut posisinya masih "wait and see" tapi tidak tertutup kemungkinan ke tiga negara akan ikut memerangi AS apabila kepentingan nasionalnya terganggu akibat kebijakan Donald Trump yang membabi-buta.

Bila perang terus berlanjut dan kapal tanker Pertamina tetap terhalang melewati Selat Hormuz maka tidak terelakkan Indonesia akan mengalami krisis BBM.Bukan hanya pasokan yang berkurang tapi harga minyak mentah dunia juga akan melonjak tinggi.

Sebagai rakyat biasa kita hanya bisa menunggu kebijakan Presiden Prabowo Subianto untuk mengatasi kondisi ini.Apakah dia masih bisa bersuara lantang di panggung Internasional.Apakah para pemimpin dunia masih mau mendengarkan suaranya.Atau menganggapnya seperti pepatah ANJING MENGGONGGONG KAFILAH BERLALU.(***)

Posting Komentar

0 Komentar