Subscribe Us

Advertisement

Warung Sate Padang EDDY, Tempat Teh Talua dan Silaturahmi Tokoh Agama di Jambi

Jambi,TARUNA MEDIA-
Jika berbicara tentang kuliner khas Sumatera Barat di Kota Jambi, nama Warung Sate Padang Eddy tentu tidak asing. Selain sate Padangnya yang lezat, warung ini memiliki minuman legendaris yang selalu dicari pelanggan, yakni Teh Talua atau Teh Telur.

Teh Talua merupakan perpaduan teh, telur, dan susu yang diaduk hingga berbusa. Disajikan bersama potongan jeruk nipis, minuman ini menghadirkan rasa manis, gurih, sekaligus segar. Bagi penikmatnya, Teh Talua bukan sekadar minuman, tetapi bagian dari tradisi kuliner Minangkabau yang tetap lestari di Jambi.

Warung Sate Padang Eddy memiliki beberapa cabang di Kota Jambi. Namun, yang paling ramai dikunjungi siang maupun malam berada di Jalan Kolonel Abunjani, Sipin. Bangunan warung memang tidak terlalu besar, tetapi deretan kursi di tepi jalan membuat tempat ini mampu menampung banyak pengunjung.

Menariknya, warung ini menjadi tempat berkumpul berbagai kalangan. Anak muda, pekerja, keluarga, hingga para tokoh agama duduk bersama tanpa sekat.

Tempat Berkumpul Tokoh Agama

Pemandangan yang mungkin jarang dijumpai di tempat lain justru menjadi hal biasa di Warung Sate Padang Eddy. Sejumlah tokoh agama seperti H Dahrial yang akrab disapa Pak Ayang, H Bambang Heriyanto ST, Pak Raden dan tokoh lainnya hampir setiap hari berkumpul di sana.

Mereka datang selepas salat Subuh maupun setelah salat Magrib dan Isya. Sudut tertentu di dalam warung seakan telah menjadi tempat mereka berdiskusi. Para pelanggan yang sudah memahami kebiasaan itu dengan sendirinya membiarkan tempat tersebut tetap tersedia.

Dengan mengenakan jubah atau pakaian muslim, mereka melanjutkan diskusi keagamaan setelah mengikuti kajian. Obrolan yang berlangsung bukan sekadar bincang santai, tetapi sering kali membahas persoalan agama, kehidupan, dan kemasyarakatan dalam suasana penuh keakraban.

Selama tinggal di Jambi bersama anak saya di Asrama Yonif, Jalan Jenderal Urip Sumoharjo, saya berkesempatan mengenal mereka. Saya rutin melaksanakan salat di beberapa masjid, seperti Masjid At-Taqwa Korem 042/Garuda Putih, Masjid Seribu Tiang, Masjid Cheng Ho, dan sejumlah masjid lainnya.

Dari sanalah jalinan persahabatan terbangun. Setiap ada pengajian Subuh, saya selalu diberi kabar agar ikut hadir. Seusai pengajian, kami bersama-sama menikmati sarapan dan Teh Talua di Warung Sate Padang Eddy. Bahkan hampir setiap pagi kami melanjutkan kegiatan dengan berjalan kaki menyusuri ruas jalan kota yang bersih dan nyaman.

Silaturahmi yang Tak Pernah Putus

Warung ini bukan hanya tempat makan, melainkan ruang silaturahmi. Saya sendiri hampir setiap pagi dan malam berada di sana. Jika suatu saat tidak datang, telepon dari para sahabat mulai berdatangan menanyakan keberadaan saya.

Yang paling membuat saya terharu adalah setiap kali ingin membayar makanan atau minuman, uang saya selalu ditolak. Berkali-kali saya mencoba bergantian membayar, namun tetap tidak diperbolehkan.

Seorang sahabat kemudian berbisik kepada saya, "Biarkan saja. Hasil kebun sawit beliau setiap hari jauh lebih dari cukup. Anggap saja ini sedekah dan amal jariyah."

Ucapan itu membuat saya memahami bahwa di balik secangkir Teh Talua dan sepiring sate, tersimpan nilai persaudaraan, kepedulian, dan keikhlasan yang sulit diukur dengan materi.

Warung Sate Padang Eddy akhirnya bukan hanya dikenal karena kelezatan sate dan Teh Taluanya, tetapi juga karena menjadi tempat lahirnya persahabatan, mempererat ukhuwah, serta menghadirkan keberkahan dalam kebersamaan.(***)



Suardi SH

Posting Komentar

0 Komentar