Subscribe Us

Advertisement

Jockie Heruseon: Membangun Talenta Kunci Transformasi Digital

Medan,TARUNA MEDIA-
VP Corporate Strategy, Innovation, Sustainability & Marketing Telkomsel,
Jockie Heruseon mengatakan, transformasi digital bukan sekadar menghadirkan teknologi yang paling canggih. Keberhasilan sebuah perusahaan justru ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang mengoperasikannya.

"Investor akan benar-benar melirik jika sebuah perusahaan memiliki talenta yang kuat. Digital transformation bukan hanya berbicara soal teknologi, tetapi juga tentang people, process, dan bagaimana semua itu diukur melalui matriks yang jelas. Jangan sampai teknologinya sudah sangat canggih, tetapi tidak ada orang yang mampu mengoperasikan atau mengikuti perkembangan zaman," ujarnya ketika bincang-bincang dengan TARUNA MEDIA.

Pemikiran itulah yang menjadi landasan Telkomsel dalam menjalankan transformasi digital, baik di lingkungan internal maupun dalam membangun ekosistem di luar perusahaan.

Menurut Jockie, langkah pertama yang dilakukan adalah memahami alasan mendasar mengapa transformasi digital harus dilakukan. Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan kompetisi yang berkembang sangat cepat. Persaingan tidak lagi hanya datang dari sesama perusahaan telekomunikasi, tetapi juga dari para pemain digital.

Ia mencontohkan kehadiran WhatsApp yang secara drastis mengubah perilaku masyarakat. Layanan SMS yang sebelumnya menjadi andalan operator perlahan hilang. Demikian pula layanan suara yang semakin tergantikan oleh aplikasi berbasis internet.

"Kita harus memilih, apakah ingin bertahan dengan cara lama atau berani berubah. Saat ini hampir semua orang, sejak bangun tidur hingga kembali tidur, tidak pernah lepas dari gadget. Screen time masyarakat sangat tinggi. Ini mengubah seluruh model bisnis," jelasnya.

Perubahan tersebut juga melahirkan berbagai profesi dan model bisnis baru, seperti YouTuber, content creator, hingga berbagai platform digital yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.

Kesadaran terhadap perubahan itulah yang, menurut Jockie, menjadi dasar bagi setiap organisasi untuk menentukan masa depannya.

"Kita bisa memilih menolak perubahan, atau akhirnya hanya menjadi bagian dari sejarah,"tegasnya.

Karena itu, Telkomsel menetapkan arah yang jelas untuk bertransformasi menjadi Digital Telco Company. Perubahan tidak hanya dilakukan pada produk yang semakin mengarah ke layanan digital, tetapi juga melalui pembangunan ekosistem inovasi yang berkelanjutan.

Transformasi juga dimulai dari dalam perusahaan. Budaya kerja lama tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan zaman yang terus berubah.

Untuk mendukung perubahan tersebut, Telkomsel membangun program pengembangan talenta bernama Polaris.

Program ini terdiri dari beberapa tahapan. Pertama dilakukan proses screening guna menemukan karyawan yang memiliki potensi terbaik. Mereka yang lolos kemudian mengikuti berbagai pembekalan melalui Founder Class dan Master Class guna memperkuat kemampuan serta digital skill yang dibutuhkan.

Setelah itu, peserta memasuki tahap berikutnya melalui Polaris in Action, sebuah wadah kompetisi inovasi. Di sini setiap peserta didorong untuk menuangkan gagasan kreatif menjadi solusi nyata.

Mereka yang berhasil lolos tidak hanya mendapatkan pendampingan, tetapi juga dukungan pendanaan agar ide yang dimiliki benar-benar dapat diwujudkan menjadi sebuah produk atau layanan.

Menurut Jockie, inovasi tidak boleh berhenti pada sebatas ide. Inovasi harus diwujudkan menjadi karya nyata yang memberi manfaat bagi perusahaan maupun masyarakat.

Dari sanalah lahir budaya inovasi yang terus tumbuh, sekaligus mempersiapkan Telkomsel menghadapi tantangan era digital yang berubah begitu cepat.(***)


Suardi SH

Posting Komentar

0 Komentar