Subscribe Us

Advertisement

Catatan Perjalanan Hidup Seorang Wartawan

Oleh: Suardi SH

Dilahirkan pada 20 Agustus 1955, saya tumbuh menjadi seorang yang kemudian memilih jalan hidup sebagai wartawan. Profesi itu membawa saya menyusuri berbagai pengalaman: naik pesawat, berjalan kaki, meliput di lokasi banjir, ruang pengadilan, kantor kepolisian, hingga kantor pemerintahan. 

Saya juga meliput bidang olahraga, ekonomi, bahkan menyelami dinamika masyarakat dari pejabat sipil, militer, hingga rakyat kecil seperti tukang becak.Semua itu adalah bagian dari perjalanan hidup yang Allah titipkan. 

Saya pertama jadi Wartawan, di Harian Waspada Medan. Mulai korektor. Satu membaca hasil yang sudah disetting, satu menyimaknya. Kemudian belajar layout. 
Mencuci film. 

Tugas di Pusat Pasar Medan, di Kantor Bupati Deli Serdang yang waktu itu masih berkantor di Medan. Pengadilan Negeri Medan, Mahkamah Militer Sumatera Utara, di Kepolisian, di Kantor Gubernur Sumatera Utara, Kantor Wali Kota Medan dan juga Wartawan Olahraga. Hampir semua sudah saya jalani.

Selain itu juga malam saya menjadi Pembantu Redaksi. Menyiapkan berita yang sudah disiapkan almarhum Yunan Sipahutar, kemudian ke almarhum Haji Rahman Siregar, kemudian ke almarhum Haji Rauf Syaf.Baru saya berikan kepada H Prabudi Said.

Suatu hari ada berita besar satu keluarga meninggal, makan "gaplek" di harian SIB jadi berita topik. Saya yang siangnya juga tugas di Kepolisian, tidak ada beritanya. Karena kealpaan saya, sehingga saya dapat peringatan pertama.

Sebelum diberhentikan, saya lebih dulu keluar. Dan saya kemudian gabung dengan almarhum H Zaidan BS di Pikiran Rakyat Bandung, perwakilan Medan.

Hampir beberapa koran saya bekerja. Di Berita Buana perwakilan Medan, bersama almarhum Esmin Erde Poetra, di Taruna Baru pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi, Warta Indonesia Baru dan sekarang beralih ke berita online, saya juga ikut dibeberapa media online.

Dalam renungan panjang, saya menyadari bahwa segala yang saya alami sesungguhnya adalah rahasia Allah. Jalan yang saya lalui, orang-orang yang saya temui, bahkan profesi yang saya jalani, semuanya adalah skenario-Nya. 

Namun, tujuan utama dari semua perjalanan ini hanyalah pulang dan mengenal Allah. Karena jika di dunia ini kita tidak mengenal Nya, maka di akhirat kita akan lebih buta lagi.

Alhamdulillah, Allah pertemukan saya dengan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Jalaliyah Bandar Tinggi, almarhum Buya Dr Syekh Salman Da’im. Bersama beliau, saya menapaki jalan suluk hingga menamatkan gajian tingkat 16, Bakoh, (Berkekalan) ingat Allah. Itu adalah anugerah besar yang tak ternilai, tanda kasih sayang Allah yang begitu luas.

Pada tanggal 20 Agustus 2026 nanti, genap usia saya 71 tahun. Sungguh tak terasa, perjalanan panjang ini hanyalah sebentar di hadapan Allah. Saya bersyukur atas segala karunia hidup yang diberikan, sebab hakikatnya saya — bersama jin dan manusia — hanya diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Dan kelak, semua pasti akan kembali kepada-Nya.

Alhamdulillah ya Allah. Engkau telah memperjalankan hidup ini dengan segala keindahan, hingga akhirnya semua kembali kepada-Mu.(***)

Posting Komentar

0 Komentar