Deli Serdang,TARUNA MEDIA-
Di sebuah desa tak jauh dari hiruk-pikuk Medan, hanya sekitar sepuluh kilometer jaraknya, tersimpan sebuah kisah yang pahit sekaligus membuka mata. Kisah tentang kekuasaan, tentang janji, dan tentang ingatan yang terlalu cepat hilang.
Awalnya, desa itu baru saja memilih kepala desa. Harapan tumbuh, masa depan dibayangkan lebih baik. Namun takdir berkata lain.Kepala desa yang terpilih meninggal dunia tak lama setelah menjabat. Demi menghindari kekosongan, pemilihan ulang pun digelar.
Tapi kali ini, bukan seluruh warga yang terlibat. Hanya segelintir perwakilan: para tokoh masyarakat dari sembilan dusun. Totalnya 63 orang. Cukup kecil untuk menentukan arah sebuah desa.
Di tengah proses itu, seorang calon kembali muncul. Ia bukan orang baru. Pada pemilihan sebelumnya, ia hanya sampai di posisi kedua. Namun kali ini, ia datang lagi membawa harapan, juga “buah tangan” yang sama: roti. Simbol sederhana, tapi sarat makna pendekatan.
Ia menyambangi seorang tokoh masyarakat di Dusun III. Rumah yang sederhana, terbuka, dengan dinding setengah batu dan kawat di bagian atas tempat angin bebas keluar masuk, dan pandangan orang luar pun tak terhalang. Di situlah percakapan terjadi. Santai, akrab, penuh harap.
Namun suasana berubah ketika telepon berdering.Di seberang sana, bukan orang biasa. Seorang pejabat. Pesannya jelas, tanpa basa-basi: dukung calon tertentu. Bahkan bukan sekadar dukungan.Ini tentang strategi kekuasaan.
Desa harus dikuasai, suara harus diarahkan. Imbalan? Tinggal sebut angka.
Tokoh masyarakat itu tidak menolak secara terang-terangan. Ia hanya berkata, “akan dicoba.” Tapi hatinya sudah memilih.
Sementara itu, sang calon yang tadi datang yang sempat bersembunyi ke dapur saat mendengar telepon tetap menaruh harapan. Ia pun tak lupa menanam janji manis: jika terpilih, anak dari tokoh masyarakat itu akan diangkat menjadi staf desa.
Hari pemilihan tiba.Tekanan datang lagi. Bahkan hingga ke kamar mandi, sang pejabat mengejar, memastikan dukungan. Tapi tokoh masyarakat itu tetap diam pada pendiriannya.
Tidak tergoda, tidak bergeser.
Pemilihan berlangsung sengit, bahkan sampai dua putaran. Ada jeda, ada celah, ada peluang untuk “bermain.”
Namun tokoh masyarakat itu justru mendorong agar proses segera dilanjutkan, menutup ruang bagi praktik kotor.
Dan akhirnya calon yang ia dukung menang.Kemenangan itu seharusnya menjadi awal dari perubahan.
Setidaknya, itulah yang diyakini saat itu.
Namun waktu berjalan, dan kenyataan berbicara lain.
Anak tokoh masyarakat yang dijanjikan jabatan, tak kunjung diangkat. Sementara orang lain lima, bahkan enam orang justru dengan mudah masuk menjadi staf desa.
Di sinilah ironi itu terasa tajam.Seorang kepala desa yang berdiri di atas dukungan, pengorbanan, dan kepercayaan justru melupakan semua itu.
Sejarah yang mengantarkannya ke kursi kekuasaan dihapus begitu saja. Janji yang dulu diucapkan dengan penuh keyakinan, berubah menjadi fatamorgana.
Kisah ini bukan sekadar cerita tentang satu desa.Ini adalah cermin.
Bahwa kekuasaan tanpa ingatan adalah awal dari pengkhianatan. Dan janji yang diingkari, pada akhirnya bukan hanya melukai satu orang tetapi meruntuhkan kepercayaan banyak orang.
Karena yang paling menyedihkan bukanlah kalah dalam perjuangan. Melainkan menang lalu lupa bagaimana caranya sampai ke sana.(***)
tim/red









0 Komentar