Jakarta,TARUNA MEDIA-
Sudah setahun lebih pengusutan kasus pencemaran nama baik bekas Presiden Joko Widodo (Jokowi),yang ditangani Polda Metro Jaya tak kunjung P21.
Publik terus dijejali oleh keterangan pihak Polda Metro Jaya yang muter-muter soal pengumpulan alat dan barang bukti serta keterangan saksi/ahli yang jumlahnya mencapai ratusan.
Padahal alat bukti utama yang diperlukan hanya selembar yakni ijazah Jokowi yang asli.Bila Jokowi memang memiliki Ijazah asli maka pasal pencemaran nama baik yang disangkakan kepada Roy Suryo cs diyakini dapat dibuktikan di pengadilan.
Tapi dengan penanganan kasus yang dinilai muter-muter tidak karuan menyiratkan ada keraguan di pihak penyidik Polda Metro Jaya tentang keaslian ijazah Jokowi.Namun para penyidik ini seolah tidak bisa berbuat apa-apa.Karena harus mengikuti "perintah" untuk menjebloskan Roy Suryo cs ke penjara.Sekaligus memberikan fakta bahwa ijazah Jokowi benar-benar asli.
Penanganan kasus yang muter-muter ini memberikan kesan Polda Metro Jaya kesulitan untuk menerapkan pasal pasal pidana sebagaimana laporan Jokowi.
Sebaliknya membuat publik justru semakin yakin bahwa ijazah Jokowi itu palsu.
Sentil Rencana Safari Jokowi
Dampak dari kasus ijazah ini, Jokowi terus menjadi bahan olok-olok dan mencatatkan dirinya dalam sejarah Republik Indonesia sebagai mantan presiden yang mendapat sorotan negatif terlama di Indonesia.Mungkin sampai akhir hayatnya.
Misalnya rencana Jokowi untuk melakukan safari keliling Indonesia mulai bulan depan juga memicu respons kritis dari internal PDI Perjuangan.
Ketua DPP PDI Perjuangan, Andreas Hugo Pareira, menyentil bahwa kunjungan perdana yang dijadwalkan ke Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut sebaiknya dimanfaatkan untuk mengklarifikasi polemik ijazah yang selama ini bergulir.
Andreas mengungkapkan bahwa isu mengenai keaslian dokumen pendidikan mantan wali kota Surakarta tersebut masih menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat NTT.
Di NTT banyak orang bertanya, apakah ijazah Jokowi asli atau palsu. Apakah kunjungan Jokowi tersebut untuk menunjukkan ijazahnya? kata Andreas kepada wartawan, Senin (18/5/2026).
Bagi seorang yang pernah berkuasa di Republik Indonesia, pernyataan ini tentu terasa menyakitkan.Tapi apalah daya Jokowi bukan presiden lagi.Untuk memperjuangkan ijazahnya saja dia harus memakai pengacara yang mahal belum lagi untuk juru bicara dan aksi framing di tembok ratapan Solo agar terkesan dia dicintai rakyat.(***)
tim/red









0 Komentar