Subscribe Us

Advertisement

Nelayan Dihimbau Waspada, Status Gunung Anak Krakatau Naik Jadi Level III Siaga

Jakarta,TARUNA MEDIA
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda antara Lampung dan Banten. Status Gunung Anak Krakatau naik dari level II (waspada) menjadi level III (siaga).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan peningkatan status tersebut didasarkan pada hasil pemantauan visual dan instrumental yang menunjukkan kenaikan signifikan aktivitas gunung api itu dalam beberapa waktu terakhir.

Data pengamatan memperlihatkan peningkatan jumlah gempa vulkanik, perubahan deformasi tubuh gunung, serta aktivitas permukaan yang mengindikasikan adanya suplai magma menuju bagian dangkal.

"Peningkatan aktivitas ini menunjukkan adanya suplai magma ke permukaan, sehingga masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius yang telah direkomendasikan," kata Lana Saria dilansir, Jumat (3/7/2027).

Selain itu, hasil pemantauan tiltmeter di sejumlah stasiun pengamatan, kata dia, juga menunjukkan kecenderungan inflasi yang menandakan akumulasi tekanan di dalam tubuh gunung api.

Badan Geologi merekomendasikan masyarakat, nelayan, dan wisatawan tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 5 kilometer dari kawah aktif guna menghindari potensi bahaya erupsi maupun lontaran material pijar.

Badan Geologi juga menyebutkan Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A di perairan Selat Sunda. Pada 2018, goncangan gempa bumi memicu erupsi Anak Krakatau dan longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau hingga menyebabkan tsunami di kawasan Selat Sunda.

Setelah peristiwa itu, erupsi berskala rendah terus berlangsung sebagai fase konstruksi pertumbuhan kembali Gunung Anak Krakatau hingga 16 Desember 2023. Setelah itu, terdapat jeda erupsi.

Gunung Anak Krakatau mengalami dua kali erupsi sejak 2 Juli 2026, yaitu 2 Juli 2026 pada pukul 14.05 WIB dan 3 Juli 2026 pada pukul 11.50 WIB. Kabar erupsi itu kemudian diikuti video yang viral dan belakangan diketahui ternyata hoax.

"Seluruh informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau hanya disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi/PVMBG dan MAGMA Indonesia," tulis Badan Geologi.

Badan Geologi juga meluruskan informasi soal jarak aman Gunung Anak Krakatau. Menurut Badan Geologi jarak rekomendasi 5 km yang beredar adalah informasi tidak benar.

"Rekomendasi resmi yang berlaku saat ini adalah masyarakat, wisatawan, dan nelayan tidak diperbolehkan beraktivitas dalam radius 3 km dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diharapkan selalu mengacu pada informasi resmi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi/PVMBG dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak memiliki sumber yang jelas," tulis Badan Geologi.

Video yang disebut hoaks tapi peristiwa erupsi Gunung Anak Krakatau memang fakta terjadi


Berikut ini rekomendasi teknis level III atau Siaga Gunung Anak Krakatau:

1. Masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau dan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.

2. Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan memercayai isu-isu tentang erupsi Gunungapi Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat.

3. Untuk mengetahui informasi dapat menghubungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi (022) 7272606 di Bandung (Provinsi Jawa Barat) atau Pos Pengamatan G Krakatau (0254) 651449 atau 085846324506 di Pasauran (Provinsi Banten).

4. Masyarakat, pemerintah daerah, dan instansi terkait dapat memantau perkembangan aktivitas dan rekomendasi Gunungapi Anak Krakatau melalui aplikasi/website Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (www.vsi.esdm.go.id), Magma Indonesia (https://magma.esdm.go.id), dan media sosial Badan Geologi (Facebook, X, dan Instagram), serta website Badan Geologi (www.geologi.esdm.go.id).(***)


sumber Detik.com



Posting Komentar

0 Komentar